WHAT'S NEW?
Loading...
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Hal yang harus diketahui perihal oli mesin

Banyak mitos perihal  oli mesin yang salah yang sudah terlanjur dipercaya banyak kalangan sebagai fakta, hal ini disebabkan oleh pemahaman yang salah terhadap gosip produk perihal oli mesin. 


Fakta dan Mitos seputar Oli Mesin





Perkembangan teknologi mesin sudah sangat berkembang pesat apayang dahulu cocok  diterapkan  pada mesin-mesin jaman dahulu belum tentu dapat diterapkan pada  mesin-mesin modern.


Berikut beberapa fakta dan mitos perihal oli mesin

Mitos 1

Tidak diperkenankan menggunakan Oli mineral yang mempunyai kandungan Parafin. Parafin sama dengan lilin.

Banyak orang menganggap parafin atau lilin yang terkandung di dalam oli akan akan membentuk lapisan pada komponen-komponen mesin dan menciptakan lumpur.



Fakta

Parafin merupakan salah satu kandungan pada minyak mentah yang digunakan sebagai materi  membuat oli mesin. 


Banyak oli mesin kualitas tinggi menggunakan materi ini sebagai materi dasarnya. 


Parafin atau lilin di dalam minyak mentah dipisahkan selama proses penyulingan minyak mentah dan merupakan salah satu produk premium yang dijual oleh perusahaan minyak.  


Oli mesin yang mengental menjadi menyerupai lumpur di dalam mesin bukan disebabkan oleh adanya kandungan lilin di dalam oli mesin.


Faktor utama penyebab pengentalan oli yakni karena oli mesin terkontaminasi oleh carbon tanggapan proses pembakaran di dalam mesin.


Sifat dasar oli mengandung deterjen yang akan menyerap kotoran dari ruang mesin dan apabila oli mesin dipakai dalam waktu yang terlalu lama maka oli mesin menjadi jenuh dan akan mengental menyerupai lumpur.



Mitos No 2

Memasukkan oli ATF kedalam mesin beberapa ketika sebelum mengganti oli mesin akan membersihkan mesin, alasannya yakni kandungan deterjen di dalam ATF akan membersihkan endapan lumpur di dalam mesin.


Fakta

Oli ATF tidak mengandung materi kimia deterjen menyerupai halnya yang terdapat pada oli mesin yang memang dirancang dapat bertahan pada kondisi ruang bakar yang kotor. 

Oli  ATF tidak akan bisa merontokkan endapan lumpur yang menempel di dalam mesin, justru ditakutkan kalau endapan lumpur terlepas dapat menyumbat saluran-saluran oli yang terdapat di filter oli dan pompa oli yang akan menjadikan kerusakan parah pada mesin.



Mitos No 3

Penggunaan oli sintetis meyebabkan oli mudah mengental dan menjadi endapan lumpur.


Fakta

Endapan lumpur tidak disebabkan oleh penggunaan oli sintetis, namun lebih pada oli yang sudah terlalu jenuh tanggapan pemakain yang terlalu lama. 

Timbulnya endapan lumpur dapat dicegah dengan menggunakan oli mesin yang sesuai dengan proposal dari  pabrikan dan penggantian oli pada waktu yang telah ditentukan serta memastikan  saluran  ventilasi crankcase (PCV) berfungsi dengan baik.



Mitos No 4

Sistem pelumasan kendaraan beroda empat harus dikuras kalau mengganti oli mineral ke oli sintetis atau sebaliknya.


Fakta

Oli mineral dan oli sintetis dapat ditukarkan.  
Bahkan ada beberapa oli yang menggunakan campuran oli mineral dan oli sintetis. 

Jadi tidak ada alasan yang berpengaruh untuk menguras seluruh sistem pelumasan ketika berganti jenis oli.



Mitos No 5

Oli sintetis akan menjadikan kebocoran kalau digunakan pada mesin-mesin tua.

OLI SINTETIS TERLALU ENCER  dan mempunyai molekul lebih kecil dibandingkan oli mineral sehingga dapat melewati celah-celah seal.


Fakta

Penyebab kebocoran oli pada mesin-mesin renta yakni karena seal yang sudah mengeras. 

Memang kebocoran sering terlihat ketika melaksanakan penggantian oli, namun gotong royong kebocoran tersebut diakibatkan oleh kandungan deterjen yang terdapat pada oli yang gres  ( baik oli mineral ataupun oli sintetis) melarutkan kerak -kerak karbon yang menutupi celah seal dan mencegah kebocoran. 




Oli mineral SAE 5w-30 mempunyai karakteristik mengalir sama dengan oli sintetis SAE 5w-30.

Viskositas oli yakni tingkat kekentalan oli yang menentukan  kemampuan mengalir oli. 



Baca Juga : TIPS PERAWATAN MOBIL

Wuling Confero S, Mampukah menjadi "Pembunuh" Toyota Avanza...??


Pasar kendaraan beroda empat kelas low MPV yang ketika ini dikuasai oleh Toyota Avanza, Honda Mobilio, Daihatsu Xenia dan Suzuki Ertiga akan direcoki oleh pendatang gres Wuling Confero S.

Sejatinya Wuling Confero S bukanlah produk gres dari industri otomotif china, dipasar global produk ini diberi nama Wuling Hongguang dan merupakan salah satu kendaraan beroda empat unggulan pabrikan Saic General Motors Wuling (SGMW).

Hongguang bisa menembus angka penjualan 650 ribuan unit tahun 2016 hanya di pasar negeri tirai bambu saja.

Jika melihat prestasi tersebut maka bisa jadi kehadiran Wuling Confero S di tanah air menjadi bahaya serius bagi kwartet penguasa pasar kendaraan beroda empat Low MPV dari negeri sakura.

Namun itu semua tergantung seberapa besar keseriusan Wuling Indonesia untuk memasuki pasar kendaraan beroda empat Indonesia yang sudah didominasi merk-merk Jepang.

Confero S Low MPV dari Wuling
Wuling Hongguan kembaran Wuling Confero S

Apakah Wuling akan bernasib sama dengan produk otomotif China terdahulu..?

Pasar kendaraan beroda empat Indonesia memiliki abjad yang cukup unik, khususnya di kelas Low MPV, faktor harga yang murah saja ternyata tidak cukup untuk menembus persaingan yang sangat ketat.

Masih terang dalam ingatan kita bagaimana serbuan produk motor China diawal tahun 2000-an dengan harganya yang jauh lebih murah dibandingkan kompetitor mereka dari Jepang yang sudah lama bercokol di Indonesia, namun jadinya motor produk China tersebut secara perlahan mulai bertumbangan alasannya faktor kwalitas dan after sales yang kalah bersaing.

Begitu juga dengan beberapa merk kendaraan beroda empat china menyerupai Chery, Geely, dkk yang waktu itu digadang-gadang akan bisa menawarkan perlawanan yang berarti pada merk-merk Jepang, namun seiring waktu merk-merk tersebut semakin karam di pasar kendaraan beroda empat tanah air.

Belajar dari pengalaman tersebut PT Saic General Motors Wuling (SGMW) Indonesia tentu tidak ingin mengulangi kesalahan rekan-rekan mereka dari negeri China dalam memasarkan produk mereka disini.

Melihat langkah yang mereka buat dengan mendirikan pabrik perakitan di Indonesia dapat disimpulkan mereka ingin "all out" untuk dapat bersaing merebut hati konsumen kendaraan beroda empat tanah air.

Produsen otomotif asal Tiongkok tersebut menyatakan kesiapannya bersaing di pasar otomotif Indonesia.Wuling telah menyiapkan aneka macam seni administrasi untuk meyakinkan masyarakat Indonesia.

Sekarang ini, pabrik Wuling sedang tahap pembangunan di Cikarang dengan realisasi investasi mencapai US$ 700 juta. Saat ini kondisi pembangunan pabrik tersebut sudah mencapai 50%. Setelah selesai, pabrik Wuling bisa menyerap sekitar 3000 tenaga kerja. Pabrik ini juga akan menjadi sentra produksi bisnis Wuling di pasar Asean.

Adapun seni administrasi Wuling di Indonesia yakni dengan selalu mendengarkan dan memahami kebutuhan dan cita-cita masyarakat Indonesia, Wuling mengklaim akan dapat menciptakan produk terbaik untuk para pelanggan dan memosisikan diri sebagai salah satu pemain penting di industri otomotif Indonesia.

Wuling juga berencana menyiapkan 50 dealer sepanjang tahun ini yang tersebar di aneka macam kawasan untuk mendukung layanan after sales mereka.

“Saat ini, kami sedang bersiap untuk membuka diler untuk melayani penjualan, menawarkan pelayanan serta memastikan ketersediaan suku cadang di seluruh Indonesia,” terang Xu Feiyun, Presiden Wuling Motors di Jakarta, Kamis (9/6/2016).



Totalnya Wuling menginvestasikan dana secara total sebesar USD 700 juta.

Wuling Confero S hadir di Pekan Raya Jakarta 2016


Sejatinya Wulling Confero S rencananya akan secara resmi diluncurkan pada pagelaran ekspo otomotif GIIAS sekitar bulan agustus 2017.

Namun sebagai pemanasan Wuling Indonesia  memboyong beberapa tipe Wuling Confero dari yang terendah hingga yang tertinggi pada ekspo Pekan Raya Jakarta 2016.

Wuling memamerkan 3 varian andalan mereka yaitu Confero S, Confero S 1.5 C dan Confero S 1.5 L Lux ++.


“Berpartisipasi di Jakarta Fair tahun ini merupakan bentuk realisasi komitmen kami untuk Indonesia. Dengan menampilkan MPV kami, Confero S, untuk menyapa pelanggan pertama kalinya,” kata Vice President of Vehicle Sales, Service and Marketing (VSSM) Wuling Motors, Cindy Cai.

Wuling optimis bahwa Confero S akan diterima oleh pelanggan di Tanah Air alasannya kendaraan beroda empat ini merupakan hasil dari upaya Wuling untuk mendengarkan dan memahami kebutuhan masyarakat akan suatu kendaraan.

Dalam rangka menawarkan kenyamanan bagi pelanggan, Wuling tengah menyiapkan pembukaan 50 titik penjualan dan layanan terpadu sepanjang 2017, selain itu, denah financial untuk pembelian kendaraan beroda empat Wuling di seluruh nusantara juga sedang dipersiapkan. “Selain menampilkan MPV pertama kami, kami juga telah menyiapkan jadwal spesial bagi semua pengunjung yang datang ke booth kami. Mari kunjungi booth kami di Jakarta Fair dan rasakan kenyamanan Confero S,” ajak Cindy.

Nama Confero S berasal dari bahasa Latin, Confero berarti 'untuk kebersamaan' (to bring together) sementara 'S' di belakang kata Confero yaitu kependekan dari 'Sport'. Nama tersebut mencerminkan komitmen kami untuk menciptakan tidak hanya kendaraan beroda empat fungsional yang nyaman untuk perjalanan keluarga, namun juga bergaya elegan dan sporty. Wuling secara resmi akan meluncurkan Confero S pada kuartal ketiga tahun ini.


Senjata andalan Wuling untuk membunuh para raksasa penguasa pasar low MPV


Harga wuling mulai 130 Jutaan

PT. Wuling Indonesia sudah membisikkan harga jual produk mereka pada pergelaran PRJ . Harga termurah untuk tipe terendah Confero hanya sekitar 130 Jutaan dan tipe tertinggi yang diwakili oleh Confero S 1.5 L Lux++  dibanderol pada harga 165 jutaan. Sementara segmen menengah Confero S 1.5 C dipatok di angka 150 juta.

Kalau melihat harga yang ditawarkan, harga tesebut jauh lebih murah bila dibandingkan dengan pesaing mereka di kelas Low MPV bahkan dengan kendaraan beroda empat LCGC saja masih terlihat murah.

Sebagai perbandingan Confero S 1.5 L Lux++  sebagai varian tertinggi hanya dibanderol 165 jutaan, sedangkan Toyota Avanza  tipe 1.3 G A/T Rp 218,5 juta, dan tipe 1.5 G M/T Rp 220,1 juta. Bahkan dengan varian paling rendah Toyota Avanza tipe 1.3 E yang dijual seharga Rp 187 jutaan harga Wuling tersebut masih lebih murah.

Namun menyerupai dikatakan diatas, menaklukkan konsumen Indonesia yang sudah sangat "fanatik" dengan merk Jepang pasti akan sulit bila hanya mengandalkan harga murah saja. Image produk China yang berkualitas rendah dan gampang rusak sudah tertanam di benak konsumen Indonesia, image inilah yang harus bisa dikikis oleh Wuling.


Tampilan modis dan beragam fitur pada Wuling Confero


Berdasarkan penelitian JATO Dynamics pada saudara kembar Confero yaitu Wuling Hongguan  yang berhasil menjadi kendaraan beroda empat terlaris kelima di dunia pada kwartal tahun 2016 alasannya desain mobilnya yang dinamis dan performa yang tidak kalah dengan pesaing dikelasnya

Mesin

Mobil yang di China dijual dengan nama Hongguang itu mengemas mesin empat silinder segaris, DOHC, D-VVT (Variable Valve Timing) yang menjanjikan tenaga 107 daya kuda (dk) pada 5.800 rpm dan torsi 142 Nm pada 3.800 - 4.400 rpm.

Eksterior

Confero S yang memiliki dimensi, panjang 4.530mm, tinggi 1.730mm, dan lebar 1.600mm.
Wuling Confero S memakai lampu depan jenis projector yang sudut ketinggian sinarnya bisa diatur dari kabin, bab eksterior juga dilengkapi foglamp depan, daytime running light (DRL)  yang akan menyala otomatis ketika mesin dihidupkan dan rear LED foglamp.


Safety

Confero S memiliki dua kantung udara di kabin depan, rem cakram di seluruh roda, serta sistem pengereman antislip (ABS) dan distribusi daya pengereman elektronik (EBD). 

Salah satu fitur menarik yang jarang dijumpai pada MPV sekelasnya yaitu eksistensi sensor pengukur tekanan ban TPMS. Sensor ini terhubung dengan layar pada dashboard mobil, sehingga pengemudi bisa memantau tekanan angin pada ban tanpa harus memeriksa menggunakan alat. 

Wuling Confero S sudah memiliki enam sensor parkir dan kamera belakang yang memudahkan sopir. Tampilan kamera terlihat pada monitor 8 inci yang juga menjadi sentra hiburan. 


Interior

Kabin kendaraan beroda empat ini tersedia dalam dua pilihan tempat duduk 7-seaters dan 8-seaters, kemudian bagasi berkapasitas 250 liter. Bagian baris kedua juga memiliki model captain seat. Confero S dilengkapi USB Socket di semua baris dingklik penumpang.

Material jok cukup bagus, demikian juga dengan jahitannya yang rapih dan tebal. Sistem hiburan kendaraan beroda empat ini tak kalah menarik, menggunakan layar berukuran delapan inci, dimana untuk pengaturannya bisa menggunakan tombol pada roda kemudi, termasuk call button.

Confero S juga dilengkapi isofix pada dingklik baris kedua, kemudian auto doorlock by speed, auto unlock collision, dan dual SRS airbag.

Perbandingan Wuling Confero dengan Toyota Avanza dan Honda Mobilio

Toyota Avanza 

Sebagai pemimpin di segmen low MPV Toyota Avanza mengusung mesin empat silinder, 16 katup, DOHC, dua VVT-i) berkubikasi 1.496 cc yang bisa memproduksi tenaga 102 dk pada 6.000 rpm dan torsi 136 Nm pada 4.200 rpm. 

Fitur keselamatan yang ditawarkan Toyota Avanza meliputi rem anti-lock braking system (ABS), seatbelt pretensioner dan force limiter, dan sabuk pengaman tiga titik di penumpang tengah. Kemudian, kendaraan beroda empat juga memiliki fitur side impact beam dan dingklik ISOFIX. Nah, untuk fitur keamanan kunci Toyota Avanza juga sudah menggunakan immobilizer. 


Honda Mobilio 

Low MPV Honda mengandalkan mesin 1,2 liter SOHC, 4 silinder segaris, 16 katup i-VTEC+ DBW dengan sistem injeksi PGM-FI. Di atas kertas, mesinnya memproduksi tenaga 116 dk pada 6.600 rpm dan torsi 145 Nm pada 4.600 rpm. 

Fitur keselamatan yang ditawarkan Honda Mobilio termasuk dual front SRS airbags di depan, rem ABS dengan EBD, rangka G-CON + ACE dengan Side Impact Beam, sabuk pengaman tiga titik di seluruh kursi, dan ISOFIX.  Sementara fitur keamanan termasuk hadirnya kunci keyless, immobilizer, dan system alarm. 


Jika melihat dari fitur yang ditawarkan dan harga yang dibanderol nampaknya Wuling Confero bisa menjadi daya tarik bagi konsumen low MPV tanah air dan  menjadi bahaya serius bagi para kompetitornya. Apalagi bila didukung oleh layanan after sales dan distibusi sparepart yang luas dan seiring perjalanan waktu ternyata kwalitasnya tidak kalah maka kehadiran Wuling akan menawarkan pilihan yang lebih variatif bagi konsumen tanah air

Apakah Wuling Confero akan bisa "membunuh para raksasa'" ataukah akan keluar dari gelanggang sebagai pecundang...??

Hanya waktu yang akan menjawab semuanya....



Salam Otomotif...

Fungsi Oksigen Sensor


Walaupun oksigen sensor sudah lebih dari dua puluh tahun digunakan pada dunia otomotif namun masih banyak pemilik kendaraan beroda empat yang tidak mengetahui apakah kendaraan beroda empat mereka dilengkapi dengan komponen ini dan apa bahu-membahu fungsi dari oksigen sensor ?.

Fungsi Oksigen Sensor
Oksigen Sensor



Banyak orang gres mengetahui bahwa kendaraan beroda empat mereka dilengkapi dengan oksigen sensor dikala lampu cek engine mereka menyala dan menimbulkan arahan DTC yang mengarah kepada komponen tersebut, atau dikala kendaraan mereka tidak lolos dari uji emisi gas buang dikarenakan  O2 sensor yang rusak.

Jika mesin tidak bekerja dengan baik atau mengkonsumsi materi bakar terlalu boros beberapa orang akan mengatakan bahwa mereka membutuhkan Oksigen sensor yang baru. Tapi dalam beberapa kasus , mereka tidak mempunyai petunjuk perihal bagaiman cara menganalisa atau memeriksa  komponen kecil yang sedikit misterius tersebut, sehingga sering kali eksklusif menyalahkan komponen oksigen sensor dikala terjadi gangguan pada kerja mesin dan emisi gas buang.

Oksigen sensor berfungsi untuk memonitor campuran materi bakar biar ECU dapat mengatur perbandingan materi bakar dan udara pada tingkat yang seefisien mungkin dan emisi gas buang  yang serendah mungkin.

Oksigen sensor melaksanakan hal tersebut dengan cara mendeteksi kandungan oksigen yang tidak terbakar pada gas buang.

Oksigen sensor menghasilkan tegangan listrik yang bervariasi tergantung seberapa banyak oksigen yang terdapat pada gas buang. Tegangan listrik yang dihasilkan sangat kecil ( biasanya dibawah 1 volt ).

Jika campuran materi bakar terlalu gemuk, tegangan yang dihasilkan oksigen sensor  akan meningkat hingga 0.9 Volt.

Jika campuran  bahan bakar terlalu kurus tegangan yang dihasilkan akan rendah hingga ) 0.1 Volt.

Oksigen sensor bekerja menyerupai switch yang secara konstan akan menunjukkan sinyal setiap ada perubahan campuran materi bakar.

ECU akan menjaga campuran materi bakar mendekati campuran ideal dengan melaksanakan kebalikan dari apa yang dilaporkan oleh oksigen sensor.

Jika oksigen sensor menunjukkan sinyal bahwa campuran materi bakar terlalu gemuk, maka ECU akan memperpendek waktu kerja injektor untuk mengurangi jumlah materi bakar yang disemprotkan, biar campuran menjadi lebih kurus.

Saat oksigen sensor mendeteksi bahwa campuran materi bakar terlalu kurus  ECU akan memperpanjang waktu kerja injektor untuk menambah jumlah materi bakar yang disemprotkan, pengaturan terus menerus menyerupai ini akan menjaga mesin bekerja dengan campuran materi bakar mendekati campuran ideal.

Sistem kontrol menyerupai ini disebut Fuel Feed back control loop yang memungkinkan kendaraan beroda empat – kendaraan beroda empat modern dikala ini menjaga emisi gas buang yang sangat rendah, oksigen sensor merupakan salah satu komponen vital pada sistem kontrol ini.

Selain pembacaan dari oksigen sensor, ECU juga menggunakan input dari sensor – sensor lainnya menyerupai coolant temperature sensor, manifold absolute pressure sensor dan air flow meter, throttle position sensor untuk mengatur perbandingan campuran materi bakar dan udara sesuai dengan beban kerja mesin.

Namun oksigen sensor menunjukkan input utama yang menentukan, supaya ECU dapat mengatur perbandingan materi bakar dan udara yang ideal. Jika oksigen sensor tidak dapat menunjukkan sinyal dengan benar maka hal itu akan mengacaukan kerja dari sistem kontrol tersebut.

Biasanya, oksigen sensor yang sudah dikatakan rusak akan menunjukkan pembacaan sinyal tegangan pada posisi rendah terus ( Campuran terlalu kurus ), yang kemudian direspon oleh ECU dengan menambahkan suplai materi bakar sehingga kesudahannya menyebabkan mesin akan bekerja dengan campuran kaya terus sehingga konsumsi materi bakar akan lebih boros dan meningkatkan emisi gas buang, pembacaan oksigen sensor yang menunjukkan tegangan rendah terus menerus biasanya disebabkan oleh beberapa hal berikut ini : umur oksigen sensor sudah lama, koneksi wiring yang jelek atau persoalan pada sistem pengapian dan kompresi mesin

Oksigen sensor yang sudah lama.


Saat oksigen sensor sudah lama dipakai, maka responnya akan sangat lambat dibandingkan dikala masih baru. Umur oksigen sensor yang sudah panjang akan  membuat kerja oksigen sensor melambat sehingga mencegah mesin bekerja dengan campuran udara dan materi bakar yang ideal.

Jika ada oli mesin yang ikut terbakar diruang bakar, atau terdapat kebocoran air pendingin pada ruang bakar maka akan dapat mengkontaminasi elemen sensor dari oksigen sensor yang akan menyebabkan oksigen sensor tidak dapat melaksanakan pembacaan dengan sempurna.

Kembali ke kala dimana bensin dengan timbal masih digunakan, penggunaan bensin dengan timbal dalam jangka waktu lama dapat menjadikan kerusakan pada oksigen sensor. Hal inilah alasan utama yang membuat pemerintah kesudahannya melarang penggunaan bensin dengan timbal.


Karena oksigen sensor hanya bereaksi pada kandungan oksigen ( bukan materi bakar )  pada gas buang, maka setiap persoalan mesin yang menyebabkan oksigen yang tidak terbakar dapat mengalir ke exhaust, akan membuat oksigen sensor membaca campuran terlalu kurus.

Misfire pada busi, kebocoran pada katup buang, kebocoran pada gasket exhaust manifold akan menyebabkan kandungan oksigen di dalam exhaust akan terlalu banyak dan akan mengacaukan pembacaan oksigen sensor, hal ini memang tidak akan merusak oksigen sensor namun akan membuat mesin bekerja dengan campuran yang terlalu kaya yang akan menaikkan emisi gas buang dan konsumsi materi bakar meningkat.


Oksigen sensor harus bekerja pada temperatur panas  


Satu hal lagi yang perlu diketahui bahwa oksigen sensor harus mencapai temperatur yang cukup panas sekitar 300 O C biar dapat menghasilkan tegangan listrik. Agar mencapai panas tersebut oksigen sensor membutuhkan waktu beberapa menit hingga mesin memanaskan ekshaust,  sehingga oksigen sensor pada kendaraan beroda empat terbaru dilengkapi dengan electrical heater circuit biar oksigen sensor dapat mencapai temperatur kerja secepat mungkin.

Sensor dengan pemanas ini biasanya menggunakan 3 atau 4 kabel. Jika ada sensor dengan 1 atau 2 kabel, berarti sensor itu tanpa pemanas.

Jika terjadi kerusakan pada sirkuit pemanas, hal tersebut tidak akan mensugesti kerja dari oksigen sensor karena oksigen sensor akan dipanaskan oleh gas buang, namun membutuhkan waktu sedikit lebih lama hingga ECU dapat masuk ke mode closed loop  yang dapat menjadikan kendaraan gagal dalam uji emisi.


Melakukan pemeriksaan oksigen sensor


Pemeriksaan oksigen sensor dapat dilakukan dengan beberapa cara yang membutuhkan beberapa peralatan khusus. Kita membutuhkan scan tool atau code reader untuk megeluarkan arahan DTC untuk kendaraan tahun 1996 keatas, untuk kendaraan dibawah tahun 1996 masih disediakan pemeriksaan arahan DTC secara manual menggunakan kedipan lampu check engine atau lampu Led.

Jika dicurigai kerusakan terjadi pada oksigen sensor, maka dapat diperiksa tegangan dan respose yang dikeluarkan oleh oksigen sensor menggunakan scantool, Volt meter atau oscilloscope.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa oksigen sensor mati atau responnya lambat maka mengganti oksigen sensor merupakan satu – satunya pilihan.
Pembersihan atau peremajaan oksigen sensor tidak akan mengatasi persoalan tersebut.

Note:
Saat mengganti oksigen sensor harus dipastikan bahwa komponennya mempunyai tipe yang sama dengan aslinya ( heated atau unheated ), kemampuan kerja dan nilai tahanan pemanasnya juga harus sama.

Penggunaan oksigen sensor yang tidak sama dapat mensugesti kerja mesin dan merusak sirkuit kontrol pemanas yang terdapat di dalam ECU. Makara pastikan oksigen sensor yang digunakan sesuai dengan rekomendasi pabrikan.

Jangan hanya memperhatikan tampilan luar oksigen sensor. Beberapa oksigen sensor pengganti mempunyai wiring konektor yang sama dengan pabrikan, sehingga tidak memerlukan perubahan atau modifikasi pada dikala pemasangan.

Sedangkan beberapa tipe oksigen sensor lainnya, khususnya universal oksigen sensor membutuhkan perubahan kabel sensornya, biar sesuai dengan konektor original pada kendaraan.

Kapan oksigen sensor perlu diganti ??


Untuk menjaga performa maksimal dari oksigen sensor, maka sangat disarankan penggantian dilakukan sebelum oksigen sensor benar – benar rusak. Beberapa jago atau pabrikan menganjurkan oksigen sensor diganti secara bersiklus pada kilo meter tertentu sebagai episode langkah perawatan berkala.

Rekomendasi yang dianjurkan untuk interval penggantian oksigen sensor tipe unheated yang menggunakan 1 atau 2 kabel produksi tahun 1976 hingga final 90-an sekitar 50.000 hingga 80.000 km.

Sedangkan oksigen sensor dengan pemanas yang menggunakan 3 atau 4 kabel keluaran tahun 1980 – pertengahan 90-an dianjurkan diganti secara bersiklus setiap 100.000 km. untuk kendaraan terbaru yang sudah menggunakan OBD II dianjurkan untuk diganti setiap 160.000 km.

Ketahui tipe oksigen sensor yang digunakan


Oksigen sensor yang paling umum digunakan yaitu tipe zirconia, namun selain tipe tersebut ada juga oksigen sensor titania dan Wide band oksigen sensor.

Oksigen sensor zirconia tanpa pemanas merupakan sensor yang pertama kali digunakan, sensor ini hanya mempunyai 1 atau 2 kabel dan butuh waktu yang lama sebelum sensor ini bisa menghasilkan tegangan listrik karena sensor ini hanya bergantung panas dari gas buang untuk mencapai temperatur kerjanya sekitar 300 0 c.

Konsekuensinya oksigen sensor tanpa pemanas ini akan kembali hambar pada dikala idle dan akan berhenti bekerja menghasilkan tegangan listrik sehingga ECU akan kembali bekerja pada mode open loop dan tidak ada kontrol pengaturan campuran materi bakar.

Pada tahun 1982 diperkenalkan  oksigen sensor zirconia dengan pemanas yang mempunyai elemen pemanas sendiri di dalam sensor, sehingga temperatur kerja akan tercapai lebih cepat ( 30 hingga 60 detik ), hal ini akan menjadikan ECU dapat masuk kedalam mode closed loop lebih cepat, yang akan mengurangi emisi gas buang  pada dikala start posisi dingin.

Elemen pemanas ini juga berfungsi untuk mencegah sensor kembali hambar pada dikala idle. Elemen pemanas membutuhkan sirkuit kelistrikan yang terpisah untuk menyuplai tegangan listrik ke elemen pemanasnya, sehingga sensor ini biasanya mempunyai 3 hingga 4 kabel.

Oksigen sensor tipe Titania mempunyai elemen sensor yang bebeda, dan menghasilkan sinyal yang berbeda pula dari oksigen sensor tipe zirconia. Sensor ini tidak menghasilkan teganga listrik yang berubah – rubah sesuai dengan campuran materi bakar,  namun oksigen sensor tipe titania ini bekerja dengan merubah tahanan dari rendah ( sekitar 1000 ohm )  saat campura materi bakar gemuk, dan tinggi ( sekitar 2000 ohm ) dikala campuran materi bakar kurus.

Switching poinnya berlangsung tepat pada nilai campuran ideal 14.7 : 1. ECU menyuplai tegangan tumpuan ( sekitar 1 hingga 5 volt, tergantung aplikasinya ) , dan kemudian ECU akan membaca tegangan kembali ( voltage drop ) sesuai dengan perubahan tahan sensor.

Oksigen sensor tipe titana hanya diaplikasikan pada sedikit kendaraan, diantaranya Nissan yang diproduksi antara tahun 80-an hingga final 90-an. , jeep cherokee produksi 1987 – 1990 dan wrangler.

Pada tahun 1997 , beberapa pabrikan otomotif mulai menggunakan oksigen sensor tipe yang baru, yaitu Heated planar O2 sensor yang mempunyai elemen ceramic zirconia dengan bentuk flat, bukan berbentuk thimble menyerupai tipe yang awal.

Elektroda sensor, conductive layer ceramic, insulation dan heater di susun berlapis – lapis dan disatukan sebagai single strip. Oksigen sensor dengan desain yang gres ini mempunyai prinsip kerja yang sama dengan tipe sebelumnya, namun kontruksinya lebih kecil, ringan dan lebih tahan terhadap kontaminasi.

Elemen sensornya juga membutuhkan tegangan listrik yang lebih rendah dan proses pemanasannya berlangsung lebih cepat sekitar 10 detik.

Beberapa kendaraan beroda empat terbaru juga menggunakan Wide band 02 sensor yang mempunyai desain yang sama dengan planar sensor , namun sensor ini menghasilkan tegangan listrik yang lebih besar sesuai dengan perubahan campuran materi bakar ( bukan switching maju dan mundur menyerupai tipe oksigen sensor yang lain ).

Hal ini memungkinkan ECU dapat menggunakan  seluruh seni administrasi operasi yang berbeda – beda untuk mengatur perbandingan materi bakar dan udara. Pada tipe sensor ini ECU tidak mengatur perbandingan materi bakar dan udara dengan cara maju dan mundur untuk menghasilkan rata  -rata campuran yang seimbang.

Namun ECU secara sederhana akan menambahkan atau mengurangi materi bakar sesuai dengan keperluan untuk menjaga rasio campuran materi bakar selalu tetap pada angka 14.7 :1.